KTWK CIBABAT

Rudal di Tengah Kota: Saat Ruang Publik Cimahi Berbicara tentang Sejarah dan Masa Depan

 

KOTA CIMAHI — Warga yang melintas di Bundaran Jati kini tidak hanya berhadapan dengan arus kendaraan yang lebih tertata, tetapi juga dengan “penjaga senyap” berupa tiga unit Rudal Rapier yang berdiri kokoh di ruang terbuka publik. Kehadirannya mengundang perhatian, memancing rasa ingin tahu, sekaligus membuka ruang dialog tentang bagaimana sebuah kota merawat ingatan sejarahnya di tengah modernisasi.

Penempatan alutsista di titik pertemuan Jalan Rd. Demang Hardjakusumah, Jalan Jati, dan Jalan Daeng Ardiwinata ini menandai pendekatan berbeda Pemerintah Kota Cimahi dalam menata ruang kota. Alih-alih sekadar memperindah taman atau membangun infrastruktur fungsional, Bundaran Jati dirancang sebagai ruang yang menyampaikan narasi tentang identitas, sejarah, dan karakter Cimahi sebagai kota dengan akar militer yang kuat.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menilai ruang publik tidak harus selalu netral dan steril dari makna. Menurutnya, Rudal Rapier yang kini menghiasi bundaran justru menjadi medium edukasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Ini bukan sekadar pajangan. Ada pesan sejarah yang ingin kami sampaikan, bahwa Cimahi punya latar belakang panjang sebagai kota militer,” ujarnya, Kamis, 22/01/2026.

Alutsista yang dipasang merupakan Rudal Rapier buatan Inggris tahun 1984 yang sudah tidak lagi digunakan oleh TNI dan dihibahkan oleh Pusat Persenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussenarhanud). Daripada tersimpan tanpa fungsi, pemerintah kota memilih memanfaatkannya sebagai elemen edukatif di ruang publik.

Pendekatan tematik ini, menurut Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Amy Pringgo Mardani, merupakan bagian dari konsep pembangunan Bundaran Cihanjuang atau Bundaran Jati yang menggabungkan fungsi lalu lintas, estetika, dan karakter kawasan.

“Rudal Rapier menjadi aksen tematik yang memperkuat identitas kawasan, bukan sekadar ornamen,” jelasnya.

Bundaran Jati sendiri rampung pada akhir 2025 dengan anggaran Rp2,24 miliar dari APBD Kota Cimahi. Selain menata lanskap, proyek ini ditujukan untuk menjawab persoalan klasik kemacetan di salah satu simpul lalu lintas tersibuk kota. Hasilnya mulai dirasakan pengguna jalan, dengan arus kendaraan yang dinilai lebih tertib dan lancar.

Namun, penguatan identitas militer tidak diterapkan secara seragam di seluruh Cimahi. Amy menegaskan, setiap kawasan memiliki pendekatan tematik berbeda sesuai latar sejarah dan karakter lingkungannya.

“Tidak semua wilayah bicara soal militer. Sekitar 30 persen wilayah Cimahi memang punya nilai historis tersebut, sementara kawasan lain akan dikembangkan dengan konsep berbeda,” katanya.

Jejak militer Cimahi sendiri telah terbentuk sejak masa kolonial Belanda, berlanjut pada era pendudukan Jepang hingga perang kemerdekaan. Jejak itu kini tidak hanya tersimpan di arsip dan bangunan lama, tetapi mulai dihadirkan kembali ke ruang publik, berdampingan dengan aktivitas warga modern.

Di Bundaran Jati, rudal-rudal itu kini bukan lagi simbol perang, melainkan penanda ingatan bahwa kota tidak hanya dibangun dari beton dan aspal, tetapi juga dari cerita yang terus diwariskan.

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close